Ayahku Lari Dengan Perempuan Simpanannya Dihari Aku Lahir ke Dunia, Setelah Ibuku Meninggal, Dia Kembali Dan Minta Permintaan yang Melampau Ini!

Sharing is caring!

Sebelum menikah dengan isteriku, aku tahu bahawa ia dibesarkan oleh ibunya. Untuk ayahnya, aku pernah bertanya sekali. Isteriku menjawab bahawa ia tidak tahu apa rasanya mempunyai ayah. Ia tidak pernah memanggil kata “ayah”, ia tidak tahu ayahnya seperti apa.

Orangtua saya sudah meninggal, sedangkan isteriku hanya mempunyai ibu, sehingga kami mengajaknya untuk tinggal bersama.

Tubuh ibu mertuaku tidak baik, ia telah makan obat bertahun-tahun. Di rumah, kami tidak akan membiarkannya melakukan apapun. Sebagian besar pekerjaan rumah tangga, kami berdua saling membantu. Jika badan ibu mertuaku lagi sehat, ia ingin membantu untuk melakukan sesuatu.

Setelah kelahiran anak laki-lakiku, kami mengajak bibi untuk datang membantu, dengan demikian ibu mertua juga ada teman.

Loading...

Hari demi hari berlalu, 8 tahun kemudian, ibu mertuaku tiba-tiba sakit. Ia dirawat di hospital selama tiga bulan, dan pada akhirnya meninggal dunia.

Isteriku sangat sedih, ia minta izin bercuti kepada tempat kerja selama sebulan. Aku sendiri juga minta izin untuk menemaninya. Ketika sedang membereskan barang ibu mertuaku, kami menemukan satu buku tua. Isinya penuh dengan kata-kata dan agak berantakan.

Aku menemani isteriku membaca dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Kami baru mengerti mengapa ibu mertuaku tidak pernah mau menyebutkan ayah isteriku.

Ternyata saat ibu mertuaku hamil, suaminya curang. Pada hari ibu mertuaku melahirkan isteriku, suaminya pindah ke rumah curangannya. Ibu mertuaku sama sekali tidak memiliki wang sesen pun. Suaminya tidak kembali walau sudah dicari kemanapun. Ibu mertuaku sangat sedih sampai mengalami pendarahan dan hampir meninggal. Pada akhirnya, kakak ibu mertuaku datang dan meminjamkan wang kepadanya.

Kerana tidak dapat menemukan suaminya, ibu mertua pun tinggal bersama ibunya. Namun, saudara iparnya bukanlah orang yang baik. Walaupun keluarga ibu mertuaku ingin mereka tinggal bersama, namun saudara iparnya merasa mereka terlalu berisik sehingga dipaksa pindah.

Dari situ, mereka hidup susah selama 10 tahunan. Setiap jalan yang dilalui meninggalkan darah dan air mata. Ibu mertua menulis di buku hariannya bahawa ia sering merasa tidak berdaya dan ingin membawa anaknya untuk membunuh diri. Namun, melihat ia hanyalah anak yang polos, apapun belum bernah ia lakukan, ia pun berusaha dan menyingkirkan pikirannya itu. Ibu mertua mulai bekerja apapun yang ia bisa. Makanya badannya pun perlahan-lahan menjadi tidak sehat.

Loading...

Setelah selesai membaca buku tersebut, isteriku menangis parah, aku langsung memeluknya dan juga ikut menangis. Aku merasa tertekan dulu isteriku pernah hidup susah seperti ini.

3 bulan kemudian, aku melihat isteriku sedang berbicara dengan seseorang di bawah rumah. Melihat aku pulang, ia segera menarikku dan masuk ke dalam rumah. Matanya mulai berair sehingga aku tidak berani bertanya. Aku pun segera memasak.

Dua hari kemudian adalah hari sabtu, kami sedang beristirahat dirumah dan siap-siap mau membawa anak keluar jalan-jalan. Orang yang sama muncul lagi. Bedanya, lelaki tua itu menjadi lumpuh dan bertatih-tatih ke arah kami. Isteriku tidak meladeninya namun lelaki tua itu tidak menyerah dan terus menghadang kami.

Isteriku tidak tahan dan berkata, “Lebih baik jangan biarkan aku melihat kamu lagi, aku tidak peduli siapa kamu. Pokoknya, dari lahir aku tidak ada ayah, tidak sebelumnya, tidak sekarang, tidak masa depan.”

Ternyata, lelaki tua ini adalah ayah isteriku. Ayahnya pernah datang sebelum ibu mertuaku meninggal, hanya saja kami tidak tahu. Selama ini, ia tidak punya anak lagi. Semakin tua, kakinya semakin lemah. Dua anak dari curangannya bukan punyanya. Sehingga, mau tidak mau ia harus kembali mencari anak kandungnya, yaitu isteriku.

Isteriku marah dan menangis sambil mengutuknya. Akhirnya, ayahnya menyerah dan berjalan pincang menuju ke jalan besar. Isteriku menatapku dan bertanya, “Aku harus bagaimana? Aku tahu dia ayah kandungku. Namun, ibu juga pernah beritahu aku untuk tidak memperdulikan dia. Tapi sekarang keadaannya kasihan sekali. Walau aku benci dia, tapi aku juga tidak tega. Aku harus bagaimana?”

Aku menepuk punggung isteriku pelan-pelan dan membalas, “Apapun pilihanmu, aku akan selalu mendukung dan menemanimu.”

Pada akhirnya, kami menyewa rumah untuk ayahnya tinggal. Kami akan memberinya beras dan minyak, kadang-kadang kasih seratus ribu untuknya. Isteriku yang baik hati tidak tega melihat ayahnya seperti itu. Aku juga tidak berkomentar mengenai hal ini, asalkan isteriku bahagia, maka itu sudah lebih dari cukup.

Sumber: Happy

 

 

Kerana Bibirnya Sumbing, Gadis Ini Dibuang Keluarganya. 30 Tahun Kemudian, Dia Berjaya dan Menjadi Bos Besar.  Siapa Sangka, Orangtuanya Datang Mencarinya! Dia pun Terpaksa Melakukan Hal Ini!

 

 

Hasmah adalah seorang gadis kecil yang hidupnya cukup menyedihkan. Ia terlahir dengan bibir sumbing, membuat kedua orangtuanya meminggirkannya dan membuangnya ke pinggir jalan.

Loading...

Hasmah memiliki seorang abang laki-laki. Kedua orangtuanya, sebut saja pasangan Pak Mat, sebenarnya memang menginginkan seorang anak perempuan, namun kerana Hasmah sumbing, mereka merasa ketika besar, tidak akan ada lelaki yang mau menikahi Hasmah, selain itu juga mungkin menjadi penyebab anak laki-lakinya tidak boleh menemukan pasangan.

Kerana itulah, pasangan Pak Mat akhirnya memutuskan untuk membuang anak gadisnya itu di pinggir jalan.

Ketika itu musim gugur, sepasang suami istri sedang berjalan-jalan, tiba-tiba mereka melihat Hasmah, mereka pun membawanya ke rumah.  Pasangan itu sudah menikah selama 8 tahun dan masih belum dikaruniai anak.

Ketika melihat Hasmah, mereka merasa kasihan, meski Hasmah memiliki kekurangan, namun mereka juga tidak tega melihat Hasmah seperti itu.

Encik Azman dan Isteri membuka sebuah restoran kecil, dengan tahu sebagai makanan khasnya. Keluarga Encik Azman dan Isteri ini memang cukup mampu, membiayai makan untuk Hasmah bukan suatu masalah, hanya saja untuk biaya operasi mulut Hasmah, mereka belum mampu.

Orang di sekitarnya mengatakan untuk membawa Hasmah ke panti asuhan saja, tapi mereka menolak. Encik Azman dan Isteri ini kemudian menabung sedikit demi sedikit untuk biaya pengobatan Hasmah ke rumah sakit di kota.

Ketika Hasmah berusia 5 tahun menginjak 6 tahun, Encik Azman dan Isteri pergi ke rumah sakit di kota, dokter mengatakan bahwa Hasmah harus di operasi sebanyak 5-6 kali. Meski biaya operasi tidaklah murah, tapi mereka senang dan melihat adanya harapan.

Dalam sekejap mata, Hasmah sudah menginjak usia 20 tahun, tubuhnya langsing, dan mulutnya sudah tidak sama lagi kerana telah melakukan beberapa operasi. Ia kemudian lulus dari universiti luar negara dan bekerja di sebuah perusahaan produk kedelai, kerana kemampuannya yang luar biasa, ia boleh dengan cepat menduduki posisi manajer.

Ketika ia kembali ke rumahnya, ia berdiskusi dengan orangtuanya (Encik Azman dan Isteri) untuk membuat fabrik pengolahan kedelai sendiri. Keluarganya itu tentu saja mendukung keputusan putrinya.

Dalam satu tahun, fabriknya itu semakin berkembang, Hasmah mulai membalas budi kebaikan orangtua angkatnya dengan membangunkan rumah dua lantai, membelikan mobil, membuat masyarakat desa iri melihatnya. Banyak juga dari mereka yang mengatakan bahwa keputusan Encik Azman dan Isteri mengambil Hasmah sebagai anaknya adalah keputusan yang tepat.

Sebenarnya, ketika Hasmah berusia 15 tahun, Encik Azman dan Isteri sudah memberitahu Hasmah mengenai identitasnya. Hasmah pun mengatakan kepada mereka bahwa ia selamanya hanya memiliki satu orangtua, yaitu Encik Azman dan Isteri. Hal ini membuat Encik Azman dan Isteri senang dan bersyukur.

Di tahun ketiga, bisnisnya itu semakin sukses. Tiba-tiba sepasang suami istri datang dan berbicara ke Hasmah, yang juga disaksikan oleh orangtua angkatnya: “Hasmah, apa kamu mengenal kami? Kami adalah orangtua kandungmu. Ya, kami barulah orangtuamu yang sebenarnya. Ketika itu kamu ada abang laki-laki, kerana kami tidak mampu merawatmu baru… Tolong maafkan kami, ketika itu kami benar-benar tidak ada pilihan.”

Hasmah dan orangtua angkatnya kaget, Hasmah kemudian menjawab: “Aku adalah anak mereka! Selamanya mereka adalah ayah dan ibuku, tidak ada yang kedua! Siapa yang membuangku di pinggir jalan? Siapa yang membawaku pulang ke rumah? Siapa yang tidak menyukaiku? Siapa yang menganggapku sebagai anak mereka? Dan siapa yang membiayaiku untuk operasi? Semua hal ini aku ingat. Memang kalian yang membawaku ke dunia ini, tapi mereka lah yang memberiku kehidupan!”

Pasangan Pak Mat (orangtua kandung Hasmah) ketika itu langsung terdiam, tidak tahu harus berkata apa saking malunya. Akhirnya, Hasmah pergi ke kantor untuk mengambil secarik amplop dan ia berikan kepada orangtua kandungnya.

Kemudian, orangtua kandung Hasmah pun pulang, sesampainya di rumah, mereka baru membuka amplop itu, ternyata di dalamnya ada selembar cek wang 5000 dan sepucuk surat, isinya: “Terima kasih telah membawaku ke dunia, mulai hari ini sebaiknya kita tidak bertemu lagi!”

Loading...

Wah! Bagaimana pendapat Sobat Cerpen mengenai cerita ini? Jangan lupa share artikel ini ke teman-temanmu ya!

Sumber: lookforward

 

Di kemaskini dan Di olah Oleh : Kisah Benar Media Network

Sharing is caring!

Loading...